Sore ini terasa sangat indah. Hujan turun dan membasahi jalan-jalan yang tak jarang membuat genangan di lubang-lubang jalan itu. Lagi, terdiam ku di depan jendela kamarku. Menatap dari balik jendela rintik-rintik hujan yang turun. Tak lupa, secangkir kopi sengaja ku buat untuk menemani lamunan ku di sore ini.
Langit tampak marah sore ini. Hitam, gelap, dan terkadang mengeluarkan suara-suara gemuruh seakan-akan memberi tanda bahwa bagian dari bumi ini sedang marah. Angin terus berhembus kencang. Memasuki kamarku dari sela-sela lubang udara yang sengaja dibuat agar kamar ini terasa sejuk. Lagi, Alunan musik lembut yang disiarkan melalui radio kesayangan ku seakan membuat ku semakin terbawa oleh suasana sore yang sangat indah ini.
Aku selalu menyukai hujan. Menurutku, ada yang spesial dari hujan. Hujan memberikan banyak sekali filosofi di dalam hidup ini. Ada yang bilang bahwa ketika hujan, langit sedang menumpahkan air matanya, mengungkapan semua kekecewaan bumi terhadap para manusia tak bertanggung jawab yang sengaja merusak bumi tanpa mau memperbaiki nya kembali. Ada juga yang bilang bahwa hujan memiliki arti yang spesial, hujan selalu datang kembali meskipun sudah mengetahui rasanya jatuh berkali-kali. Ah, indah sekali memang semua tentang hujan.
Ditambah lagi kopi secangkir kopi diatas meja kamarku yang masih mengeluarkan asap diatas nya. Sedikit demi sedikit aku merasakan nikmatnya kopi itu. Hanya sedikit rasa manis, tapi selalu nikmat ku rasakan. Sama seperti hidup ini, presentase manis dibanding pahit nya hidup ini hanya 30% berbanding 70%. Terlalu banyak pahit yang dirasakan. Sampai-sampai, kata-kata ini sulit untuk mengungkapkan semuanya. Tak jarang, air mata keluar untuk membantu mengeluarkan semua keluh kesah hati ini. Tapi, aku selalu bisa menikmati kepahitan hidup ini sama seperti ketika aku menikmati secangkir kopi panas ku.
Alangkah menyedihkannya orang-orang yang selalu menumpahkan kesedihan dimana-mana. Tak mengerti bagai mana cara menikmati kepahitan hidup itu. Mungkin, mereka harus banyak belajar dari segala hal. Bukan hanya tentang belajar materi dari buku-buku yang ada di perpustakaan, atau mungkin dari wikipedia yang dengan mudahnya kita akses melalui internet. Tapi, mereka harus banyak belajar dengan mengambil segala filosofi dari benda mati sekalipun.
Secangkir kopi dan hujan. 2 hal yang bisa membuat ku terbawa oleh suasana lamunan yang tak tahu kemana arah otak ini berpikir. Jauh di dalam lubuk hati, sebenarnya tersimpan banyak problematika yang sangat sulit untuk di jelaskan dengan kata-kata. Lagi-lagi, aku hanya dapat memendam itu semua. Ketika tak ada satupun orang yang mau perduli akan hidupku ini, aku tak bisa berbuat apa-apa. Mencoba mencari kawan yang ingin ikut merasakan jeritan hati ini, tapi itu semua mungkin hanya sebatas mimpi kecil ku. Nyatanya, semua manusia pasti memiliki masalah nya masing-masing. Mereka, termasuk aku terlalu sibuk memikirkan jalan keluar dari semua masalah itu. Tak jarang yang mengakhiri masalahnya dengan ikut mengakhiri hidupnya. Sungguh bodoh orang yang mempunyai pikiran seperti itu. Tak tahu apa arti hidup ini sebenarnya, tak tahu ada keindahan tersembunyi dibalik perih nya hidup ini.
Sedikit yang aku tahu tentang masalah di hidup manusia. Terkadang, masalah itu muncul bukan karena faktor dari luar yang terus menyiksa batin manusia dari dalam. Tapi, masalah itu justru muncul dari diri manusia itu sendiri. Ya, tak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Terlalu jatuh ke dalam lubang hitam yang membuat buta logika yang seharusnya dipakai, dikuasai oleh amarah nya sendiri. Tak banyak yang bisa dilakukan. Ingat, tuhan selalu memberikan kebutuhan, bukan keinginan. Merasa cukup dengan apa yang telah diberikan, bersyukur, hanya itu kunci nya.
bagus kak! sukses terus ya,god bless you!
BalasHapus